Oleh: Husni Mardian, M.Pd
Tim Jurnal STIES Alifa Pringsewu
Pernahkah kita membaca sebuah artikel ilmiah yang sebenarnya memiliki gagasan menarik, tetapi sejak membuka halaman pertamanya kita merasa bahwa artikel tersebut belum benar-benar siap dipublikasikan?
Tulisan terlalu padat, format tidak konsisten, judul dan subjudul tidak tertata, tabel berantakan, identitas penulis tidak jelas, atau bahkan tampilan antara artikel dalam satu jurnal berbeda-beda.
Di titik itulah saya mulai memahami bahwa “layout jurnal bukan sekadar persoalan estetika”.
Siang ini, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama tentang pengelolaan dan layout jurnal berbasis “Open Journal Systems (OJS) 3.0”. Kegiatan ini diinisiasi oleh Prof. Andi Taher, Ketua Yayasan STIES Alifa Pringsewu, yang mengundang David Naista, M.Kom., Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung, untuk berbagi pengetahuan dan membimbing kami secara langsung.
Bagi saya, pertemuan tersebut bukan hanya tentang bagaimana mengatur tampilan sebuah artikel. Lebih dari itu, kami diajak melihat bahwa di balik sebuah jurnal yang tampak rapi dan profesional terdapat proses pengelolaan yang membutuhkan ketelitian, keterampilan, konsistensi, dan komitmen kelembagaan.
Selama ini, kita mungkin lebih sering memandang publikasi ilmiah dari sisi substansi: apakah penelitiannya bagus, apakah metodologinya tepat, apakah pembahasannya kuat, dan apakah kesimpulannya memberikan kontribusi.
Semua itu memang sangat penting.
Namun, sebuah penelitian yang baik tetap membutuhkan cara penyajian yang baik agar gagasannya dapat dibaca, dipahami, dan ditemukan oleh pembaca.
Di sinilah proses layout memiliki peran.
Naskah yang masuk ke meja pengelola jurnal pada dasarnya masih merupakan raw manuscript. Ia perlu melalui proses penyuntingan dan penataan sebelum menjadi produk publikasi yang siap dibaca oleh masyarakat akademik.
Dalam proses tersebut, berbagai hal perlu diperhatikan: struktur artikel, konsistensi heading, tipografi, tabel dan gambar, penomoran, identitas artikel, referensi, metadata, hingga keseragaman tampilan antarartikel.
Semua itu mungkin terlihat sebagai persoalan teknis. Tetapi jika dilakukan dengan baik, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar membuat halaman terlihat indah.
Layout adalah bagian dari cara sebuah jurnal berkomunikasi dengan pembacanya.
Hal lain yang saya dapatkan dari pembelajaran bersama David Naista adalah pemahaman bahwa OJS tidak semata-mata menjadi tempat untuk mengunggah artikel.
OJS merupakan bagian dari ekosistem pengelolaan jurnal: mulai dari proses pengiriman naskah, pengelolaan editorial, publikasi, hingga penyajian informasi artikel secara daring.
Karena itu, pengelola jurnal perlu memahami bukan hanya tombol mana yang harus diklik, tetapi juga mengapa suatu informasi harus ditampilkan dengan benar dan konsisten.
Metadata, misalnya, bukan sekadar formalitas. Judul artikel, nama penulis, afiliasi, abstrak, kata kunci, DOI, referensi, dan informasi lainnya membantu artikel dikenali dan ditemukan dalam ekosistem pencarian ilmiah.
Artinya, pekerjaan tim jurnal sebenarnya berada di antara dua dunia: dunia akademik dan dunia teknis.
Editor perlu memahami kualitas naskah, tetapi juga perlu memahami bagaimana naskah tersebut diproses dan disajikan secara digital.
Dari sini saya juga merasa perlu meluruskan satu hal.
Kita tidak boleh menyederhanakan persoalan jurnal dengan mengatakan bahwa layout yang bagus otomatis membuat jurnal mendapatkan akreditasi tinggi atau artikel menjadi banyak disitasi.
Tentu tidak sesederhana itu.
Kualitas jurnal dibangun oleh banyak unsur: kualitas artikel, proses “peer review”, kompetensi editor dan reviewer, konsistensi penerbitan, tata kelola, etika publikasi, kualitas metadata, keterjangkauan artikel, hingga reputasi dan kontribusi ilmiahnya.
Demikian pula dengan sitasi. Sebuah artikel tidak otomatis banyak disitasi hanya karena tampilannya bagus.
Namun, layout yang profesional tetap memiliki arti penting.
Setidaknya, ia membantu membangun kesan kredibel, keterbacaan, konsistensi, dan pengalaman pembaca. Bersama pengelolaan metadata dan publikasi digital yang baik, hal-hal tersebut dapat mendukung keterlihatan (*discoverability*) sebuah artikel.
Dengan kata lain, layout bukan penentu tunggal kualitas jurnal, tetapi merupakan bagian dari ekosistem kualitas publikasi.
Ada pelajaran lain yang menurut saya tidak kalah penting.
Persoalan publikasi ilmiah tidak seharusnya hanya dibebankan kepada tim pengelola jurnal.
Para dosen dan penulis juga perlu memahami bagaimana sebuah artikel ilmiah disusun dan dipersiapkan.
Seorang penulis yang memahami struktur artikel, gaya selingkung, format referensi, tabel, gambar, sitasi, dan berbagai ketentuan teknis jurnal akan lebih mudah menyiapkan naskah yang sesuai dengan standar publikasi.
Dengan demikian, hubungan antara penulis dan pengelola jurnal seharusnya bukan sekadar hubungan antara “pengirim naskah” dan “pemeriksa naskah”.
Keduanya adalah bagian dari satu ekosistem yang sama: membangun budaya publikasi ilmiah yang lebih baik.
Dari pengalaman belajar hari ini, saya semakin yakin bahwa pengelolaan jurnal tidak semestinya dianggap sebagai pekerjaan tambahan yang dilakukan ketika ada waktu luang.
Jurnal membutuhkan orang-orang yang memiliki kompetensi.
Tidak cukup hanya memahami cara menerbitkan artikel. Tim jurnal juga perlu terus belajar mengenai editorial, peer review, layout, metadata, DOI, indeksasi, etika publikasi, hingga perkembangan teknologi penerbitan ilmiah.
Karena itu, pelatihan seperti yang kami ikuti hari ini seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali.
Upgrading skill perlu menjadi proses yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, saya melihat satu hal yang patut diapresiasi dari STIES Alifa Pringsewu. Inisiatif Prof. Andi Taher untuk mengajak tim jurnal belajar langsung bersama praktisi yang memiliki kompetensi teknis menunjukkan bahwa pengembangan jurnal membutuhkan dukungan dari pimpinan institusi.
Jurnal yang kuat tidak lahir hanya dari kerja keras satu atau dua orang editor.
Ia membutuhkan tim, sistem, pembelajaran, dan dukungan kelembagaan.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar yang saya dapatkan hari ini bukan tentang bagaimana membuat halaman jurnal terlihat lebih rapi.
Lebih dari itu, saya belajar bahwa profesionalitas jurnal dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mulai dari naskah yang disiapkan dengan baik oleh penulis, proses editorial yang bertanggung jawab, peer review yang berkualitas, metadata yang lengkap, layout yang konsisten, hingga publikasi digital yang dikelola dengan benar.
Semuanya saling terhubung.
Sebuah jurnal mungkin tidak langsung menjadi jurnal bereputasi hanya karena memperbaiki layout. Tetapi jurnal yang serius memperbaiki layout biasanya sedang menunjukkan sesuatu yang lebih penting: keseriusan memperbaiki proses di belakangnya.
Dan mungkin, di situlah letak makna sebenarnya dari sebuah layout.
Ia bukan sekadar membuat artikel terlihat bagus.
Ia adalah salah satu bentuk penghormatan kita terhadap penulis, pembaca, ilmu pengetahuan, dan karya akademik yang sedang kita publikasikan.
Pelatihan hari ini mungkin hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Namun, bagi saya, ia membuka satu kesadaran yang lebih panjang:
publikasi ilmiah bukan hanya tentang menerbitkan tulisan, tetapi tentang bagaimana memastikan gagasan yang baik dapat disajikan dengan baik, ditemukan oleh pembaca, dipahami, dan pada akhirnya memberikan manfaat.
Karena itu, layout bukan tujuan akhir. Ia adalah bagian dari jembatan yang membawa ilmu pengetahuan dari meja penulis menuju masyarakat akademik dan dunia yang lebih luas.














