Kaganga.id – Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Dr. Budiyono, S.H., M.H., menegaskan pentingnya ketulusan pengabdian, kepemimpinan yang berlandaskan keteladanan, serta kebersamaan dalam membangun masa depan kampus.
Pesan tersebut disampaikan Budiyono saat menutup rangkaian paparan visi dan misi di hadapan sivitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung, Jumat (23/10/2026). Kegiatan itu merupakan bagian dari tahapan sosialisasi gagasan para calon rektor untuk periode 2027–2031.
Paparan ketujuh yang berlangsung pada hari keempat sekaligus hari terakhir tersebut menjadi momentum bagi Budiyono untuk menekankan bahwa kemajuan Unila tidak bisa bertumpu pada satu sosok, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh elemen kampus.
“Masa depan Unila tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh gerak bersama sivitas akademika, mahasiswa, alumni, dan mitra industri,” tegasnya.
Menurut Budiyono, semangat “Unila Go Beyond Achievement” harus diwujudkan melalui langkah nyata, bukan sekadar menjadi slogan. Semangat tersebut, kata dia, menjadi dorongan bagi Unila untuk terus melampaui batas, menghasilkan inovasi, serta memperkuat reputasi di tingkat internasional.
Ia berharap Universitas Lampung mampu berkembang menjadi perguruan tinggi berkelas dunia yang tidak hanya unggul dalam pencapaian akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia industri.
“Mari bergerak bersama menjadikan Universitas Lampung sebagai universitas inovatif berkelas dunia yang berdampak bagi masyarakat dan industri,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Budiyono juga menyampaikan prinsip kehidupan dan pengabdian yang menurutnya penting diterapkan dalam menjalankan amanah, baik dalam lingkungan akademik maupun kehidupan bermasyarakat.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga sikap, menghargai sesama, serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain.
“Jika belum mampu memberi, jangan mengambil. Jika belum mampu mengasihi, jangan membenci. Jika belum mampu meringankan, jangan menambah beban,” ucapnya.
Budiyono melanjutkan, setiap orang perlu menjaga perkataan dan perilaku. Jika belum mampu memuji, seseorang sebaiknya tidak menghujat. Jika belum mampu menghargai, jangan menghina. Begitu pula ketika belum mampu membahagiakan orang lain, jangan sampai justru menyakiti.
Baginya, prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang sehat, harmonis, dan saling mendukung. Kemajuan institusi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kemauan setiap elemen untuk bekerja sama dan saling menguatkan.
“Kita tidak harus menjadi yang paling hebat, tetapi kita harus bersedia saling menguatkan dan mau bergandengan tangan berjalan bersama,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jabatan dan kedudukan bukanlah sesuatu yang abadi. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya tidak hanya berorientasi pada posisi yang diemban, tetapi juga memikirkan manfaat dan kebaikan yang dapat ditinggalkan bagi institusi maupun generasi berikutnya.
“Jabatan akan berakhir, kedudukan akan berganti, tetapi ketulusan pengabdian dan kebaikan yang kita tinggalkan akan selalu dikenang,” tuturnya.
Budiyono mengajak seluruh elemen Unila menjadikan ketulusan, keteladanan, dan kebersamaan sebagai fondasi dalam melanjutkan pembangunan universitas. Menurutnya, nilai-nilai tersebut diperlukan agar Unila mampu menghadapi tantangan pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kontribusinya bagi masyarakat.
“Mari mengabdi dengan hati, memimpin dengan keteladanan, dan membangun Unila dengan kebersamaan,” ajaknya.
Menutup paparannya, Budiyono berharap setiap langkah dan upaya yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat bagi Universitas Lampung, masyarakat, bangsa, dan negara.
Ia menegaskan, kepemimpinan di perguruan tinggi bukan semata-mata tentang mengejar pencapaian, melainkan juga membangun kepercayaan, merawat kebersamaan, dan meninggalkan warisan pengabdian yang bermakna bagi generasi mendatang. (*)














