“MENGAPA HARUS DR. BUDIYONO?’

oleh Dr. As’ad Muzzammil.

Wakil Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung/eks Ketua KPU Kota Bandar Lampung

Hasil rekapitulasi Pemilihan Rektor Unila periode 2027-2031 yang digelar hari ini, Rabu (29/10) menobatkan Dr. Budiyono, S.H., M.H. di posisi teratas dengan perolehan 22 suara dari total 47 suara senat, mengungguli Prof. Warsito (15 suara) dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar (7 suara) dan 3 bacarek lainnya yang masing-masing memperoleh 1 suara.

 

Namun ibarat Pilkada dan Pilpres, ini adalah pemilihan putaran pertama. Masih ada fase yang akan sangat menentukan di mana pemilihan “putaran kedua” akan digelar kembali bersama Menteri Pendidikan Tinggi dan Saintek

 

Lalu, mengapa Dr. Budiyono yang paling layak dikawal hingga tahap akhir?

 

Pertama dari aspek kepatutan. Dalam hal ini, suara senat adalah suara “arus bawah’ yang tidak terbantahkan

 

Dalam tradisi demokrasi kampus, tahap penjaringan adalah cerminan _trust_ internal. Jika seorang calon mampu meraih 22 suara atau hampir 50% suara senat yang hadir, itu artinya ada _legitimasi moral_ yang kuat dari para guru besar dan perwakilan fakultas.

 

Ini penting untuk aspek kepatutan. Unila pasca kasus beberapa tahun lalu sangat membutuhkan pemimpin yang diterima secara kolektif, bukan pemimpin yang hanya kuat karena sokongan luar tapi lemah di dalam. Kemenangan telak Budiyono menjadi sinyal bahwa dia adalah figur pemersatu di tengah perbedaan pilihan.

 

Kedua, dari aspek kewenangan Menteridiktisaintek. Berdasarkan Permenristekdikti Nomor 19 Tahun 2017 Pasal 7, mekanisme Pilrek adalah: Menteri memiliki 35% hak suara dan Senat 65%. Bahkan aturan terbaru Pilrek Unila 2026 menegaskan hal yang sama: pemilihan dilakukan Senat bersama Menteri

 

Artinya, 35% suara Menteri adalah _privilege_ yang sangat menentukan. Menteri tidak akan asal memberikan suara. Ada tim penilai, penelusuran rekam jejak yang diatur dalam Peraturan Senat No 1 Tahun 2026, koordinasi dengan KPK terkait LHKPN, hingga PPATK.

 

Di sinilah rekam jejak menjadi kunci. Kita percaya bahwa Menteri pasti akan mencari calon yang bersih, punya kapasitas manajerial, dan tidak berisiko.

Dalam konteks inilah, rekam jejak Budiono, mulai dari aktifis hingga menjadi seorang pakar Hukum berskala nasional, bukanlah sosok karbitan. Budiyono memilik akar yang kuat : Lahir dari keluarga sederhana di Tanjungkarang, 19 Oktober 1974, putra dari pensiunan PNS. Dididik dengan nilai kejujuran dan pengabdian. Semasa kuliah di FH Unila, ia aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa FH dan HMI. Ini membentuk karakter pemimpin yang tidak elitis dan dekat dengan mahasiswa.

Berikutnya, ia adalah pakar Hukum Tata Negara. Kredibilitasnya diakui secara nasional, terbukti ketika ia menyerahkan _Legal Research_ tentang Reformasi Polri langsung ke Panja Komisi III DPR RI di Jakarta dan menegaskan posisi Polri di bawah Presiden secara konstitusional. Ini menunjukkan Budiyono bukan hanya dosen lokal, tapi rujukan nasional dalam isu ketatanegaraan.

 

Selain itu juga dalam sosialisasi pencalonannya, ia menegaskan visi “Go Beyond Achievement” dengan tujuan akhir menjadikan Universitas Lampung sebagai perguruan tinggi yang unggul, berkarakter, dan berdampak global. Melalui visi ini, ia menegaskan bahwa prestasi-prestasi yang telah diraih Unila saat ini harus dijadikan pijakan awal untuk melangkah lebih jauh menuju universitas inovatif berkelas dunia. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah optimalisasi tata kelola dan sinergi seluruh elemen kampus untuk menyongsong status PTN-BH. Budiyono fokus pada fondasi yang paling dibutuhkan Unila saat ini: Integritas dan Kebersamaan.

 

Pada akhirnya, Pilrek Unila bukan hanya soal hitung-hitungan suara senat. Pilrek adalah pertarungan gagasan dan integritas yang akan diuji di meja Menteri dengan porsi 35% tersebut.

Budiyono sudah memenangkan pertarungan pertama: memenangkan hati senat. Modal kepatutan itu yang harusnya menjadi pertimbangan utama Menteri Diktisaintek untuk melengkapi 35% suaranya. Karena rektor yang kuat di dalam dan bersih rekam jejaknya di luar, adalah kunci untuk mengembalikan Unila menjadi kampus yang bermartabat dan menjadi panutan di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *