LAMPUNG UTARA(KAGANGA.ID)– Di tengah derasnya pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, masih ada warga di pelosok Kabupaten Lampung Utara yang harus berjuang melawan lumpur demi bertahan hidup. Mereka bukan meminta kemewahan. Mereka hanya ingin jalan yang aman untuk dilalui.
Ruas Jalan Pungguk Baru–Papan Rejo, Kecamatan Abung Timur, kini berubah menjadi jalur penuh lumpur, licin, dan rawan kecelakaan. Saat hujan turun, badan jalan nyaris tak bisa dibedakan dengan kubangan sawah. Kendaraan roda dua harus berjalan perlahan, sementara mobil pengangkut hasil kebun kerap terjebak berjam-jam.
Pemandangan pilu terlihat setiap pagi. Anak-anak sekolah menuntun sepeda mereka melewati lumpur setinggi mata kaki. Ibu-ibu yang membawa anak harus menahan takut agar tidak terjatuh. Para petani memeras tenaga mendorong motor yang membawa hasil panen.
“Kalau hujan kami takut sekali lewat sini. Jalan licin seperti sabun. Banyak yang jatuh, apalagi ibu-ibu bawa anak,” ujar Rudi, warga Papan Rejo, Sabtu (16/5/2026).
Bagi masyarakat, jalan tersebut adalah satu-satunya akses utama penghubung aktivitas warga. Jalan itu menjadi jalur anak sekolah menuju masa depan, jalur petani mencari nafkah, hingga jalan bagi warga sakit menuju layanan kesehatan.
Namun kini, akses itu justru menjadi ancaman keselamatan.
Di beberapa titik, badan jalan mulai longsor dan menyisakan jalur sempit yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Jika dua kendaraan berpapasan, salah satu harus rela masuk ke lumpur demi menghindari jatuh ke sisi jalan.
Warga mengaku kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Perbaikan sementara pernah dilakukan, namun tidak bertahan lama karena kondisi jalan yang semakin rusak saat musim hujan datang.
“Kami tidak minta jalan bagus seperti di kota. Cukup jalan yang layak dan aman dilalui. Kasihan anak-anak sekolah dan ibu hamil kalau harus lewat seperti ini terus,” kata Marlin, warga Pungguk Baru.
Kesedihan warga semakin terasa karena jalan tersebut menjadi urat nadi ekonomi desa. Hasil singkong dan pertanian lainnya harus melewati jalur itu setiap hari. Ketika kendaraan pengangkut tersangkut di lumpur, kerugian bukan hanya soal waktu, tetapi juga penghasilan warga kecil.
Di balik lumpur yang menumpuk, ada harapan masyarakat yang perlahan ikut tenggelam. Mereka berharap pemerintah tidak hanya mendengar laporan di atas meja, tetapi benar-benar melihat kondisi yang dialami warga di lapangan.
Karena bagi masyarakat Abung Timur, jalan ini bukan sekadar infrastruktur. Jalan ini adalah harapan hidup.
Warga berharap pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Lampung Utara, segera turun tangan melakukan perbaikan serius sebelum jatuh korban yang lebih besar.
Sebab hingga hari ini, di tengah lumpur Jalan Pungguk Baru–Papan Rejo, masyarakat masih harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap kali ingin pulang ke rumah.














