Kaganga.id – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Gerindra, Ruby Chairani Syiffadia, B.A. (Hons), M.Sc., menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelatihan Pembuatan dan Editing Video bagi generasi muda di Kota Bandar Lampung, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Akar Lampung tersebut diikuti 80 peserta dari kalangan anak muda dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) muda. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus membekali peserta dengan keterampilan kreatif yang dapat dimanfaatkan di era ekonomi digital.
Bimtek tersebut merupakan bagian dari program kemitraan Komisi X DPR RI dengan BRIN untuk mendorong pengembangan kreativitas dan kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital.
Dalam sambutannya, Ruby Chairani mengaku senang dapat bertemu langsung dengan anak-anak muda yang memiliki semangat belajar dan mengembangkan kreativitas melalui pelatihan pembuatan serta penyuntingan video.
Menurut dia, media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penikmat konten, tetapi juga mampu menghasilkan karya sendiri yang kreatif dan bernilai ekonomi.
“Jangan sampai kita hanya menghabiskan waktu untuk menonton karya orang lain, sementara sebenarnya kita juga punya kesempatan untuk menciptakan karya sendiri. Apalagi sekarang, membuat konten video bukan sekadar untuk hiburan,” kata Ruby.
Politikus Partai Gerindra yang akrab disapa Kak Ruby itu menilai, keterampilan membuat dan mengedit video dapat menjadi peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha, memperkenalkan potensi daerah, hingga memperoleh penghasilan melalui kreativitas digital.
Ia menegaskan, untuk mulai berkarya, anak muda tidak harus memiliki kamera mahal maupun peralatan profesional. Ponsel yang digunakan sehari-hari pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan video yang menarik dan bermanfaat.
“Yang paling penting adalah kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, dan tidak takut ketika hasil pertama belum sempurna,” ujarnya.
Ruby berharap pelatihan tersebut tidak hanya memberikan kemampuan teknis kepada peserta, tetapi juga mendorong mereka menghasilkan konten yang mampu menyampaikan pesan secara efektif, membangun kreativitas, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Melalui pelatihan ini, saya berharap teman-teman bukan hanya belajar bagaimana membuat video yang bagus secara visual, tetapi juga bagaimana menyampaikan pesan, membangun kreativitas, dan menghasilkan konten yang memiliki nilai positif,” ungkapnya.
Ia pun meminta para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali pengetahuan dan meningkatkan kemampuan melalui praktik langsung.
“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Jangan malu bertanya, jangan takut mencoba, dan jangan berhenti berkarya,” pesannya.
Sementara itu, narasumber dari BRIN menyampaikan bahwa materi pelatihan mencakup tiga aspek utama, yakni teknik dasar videografi menggunakan ponsel, penyusunan cerita dan naskah video, serta praktik penyuntingan video menggunakan aplikasi digital.
Pada materi videografi, peserta mempelajari teknik pengambilan gambar yang stabil, pengaturan pencahayaan, dan komposisi visual agar menghasilkan video yang menarik meski hanya menggunakan ponsel.
Peserta juga mendapatkan materi *storytelling* dan *scriptwriting* untuk menyusun alur cerita video pendek, termasuk strategi menarik perhatian penonton pada tiga detik pertama, khususnya untuk konten Reels dan TikTok.
Selain itu, pelatihan dilanjutkan dengan praktik penyuntingan video menggunakan aplikasi CapCut, VN, dan Adobe Premiere Pro untuk pemula. Materi praktik meliputi teknik transisi, *color grading*, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses penyuntingan.
Perwakilan BRIN mengapresiasi inisiatif Ruby Chairani yang dinilai sejalan dengan upaya mendorong pemanfaatan hasil riset dan pengetahuan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami dari BRIN sangat mengapresiasi inisiasi Ibu Ruby Chairani. Ini sejalan dengan program BRIN untuk hilirisasi riset ke masyarakat. Literasi digital berbasis riset ini sangat penting agar anak muda tidak hanya viral sesaat, tapi punya karya yang berkelanjutan,” ujarnya.u
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya menyimak pemaparan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan dan penyuntingan video di lokasi pelatihan.
Salah satu peserta, Sukisno (38), pelaku UMKM, mengaku terbantu dengan adanya pelatihan gratis tersebut. Ia menilai kegiatan itu memberikan kesempatan bagi peserta untuk mempelajari keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan usaha.
“Biasanya pelatihan editing video itu bayar mahal, sampai jutaan. Ini gratis dan dapat sertifikat dari BRIN dan DPR RI. Materinya daging semua, langsung dari ahlinya. Terima kasih Kak Ruby, semoga sering ada acara seperti ini,” kata Sukisno.
Menutup kegiatan, Ruby Chairani berharap pelatihan yang diikuti 80 peserta tersebut dapat melahirkan kreator konten baru dari Lampung yang mampu menghasilkan karya kreatif sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.
Ia mendorong generasi muda memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk mempromosikan keindahan alam, produk UMKM, serta kekayaan budaya Lampung melalui konten video.
“Saya tidak mau anak muda Lampung hanya jadi konsumen konten orang lain. Saya mau anak muda Lampung jadi produsen konten. Ceritakan keindahan Lampung, ceritakan UMKM Lampung, ceritakan budaya Lampung melalui video-video keren kalian. Skill sudah saya berikan, sertifikat sudah ada, sekarang waktunya kalian berkarya,” tutup Ruby. (*)














