Anggota Komisi X DPR RI Ruby Chairani Gelar Diskusi Kebudayaan: Ajak Anak Muda Jadikan Budaya Tetap Relevan Di Era Global

Kaganga.id – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Gerindra, Ruby Chairani Syiffadia, B.A. (Hons), M.Sc., kembali menunjukkan komitmennya dalam kemajuan kebudayaan nasional dengan menggelar diskusi kemajuan Kebudayaan bagi generasi muda di Kecamatan Natar, Rabu 21 Oktober 2026.

Diskusi yang mengusung tema “Budaya Tetap Relevan di Era Modern: Menjadi Modern Tanpa Meninggalkan Tradisi” ini diikuti puluhan peserta.

Dalam sambutannya yang penuh makna, Ruby Chairani Syiffadia memberikan pandangan mendalam tentang arti kebudayaan yang sesungguhnya.

“Tema hari ini adalah sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kita, yaitu kebudayaan. Mungkin yang pertama terlintas adalah tarian tradisional, pakaian adat, bahasa daerah, atau kesenian. Padahal, ‘budaya’ jauh lebih luas daripada itu,” ujar Ruby membuka sambutannya.

“Cara kita menghormati orang tua, kebiasaan bergotong royong, cara berkomunikasi, bahkan bagaimana kita memperlakukan orang lain, semuanya tidak terlepas dari nilai-nilai budaya yang membentuk diri kita,” lanjutnya.

Ruby menjelaskan, tantangan kebudayaan hari ini adalah ketika budaya lokal bertemu langsung dengan budaya global. Di tengah gempuran tren baru yang datang silih berganti dan teknologi yang mengubah kebiasaan, identitas anak muda terus diuji.

“Di tengah perkembangan zaman, kita hidup di era budaya lokal bertemu dengan budaya global. Tren baru datang silih berganti, teknologi mengubah kebiasaan, dan cara kita mengekspresikan identitas pun terus berkembang,” kata Anggota Komisi X yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Menurutnya, menjadi modern bukan berarti harus meninggalkan tradisi, dan mencintai budaya bukan berarti harus menolak perubahan.

“Menjadi modern bukan berarti harus meninggalkan tradisi. Begitu juga mencintai budaya bukan berarti harus menolak perubahan. Justru tantangan kita adalah bagaimana menjadikan budaya tetap relevan dengan kehidupan generasi hari ini,” tegas Ruby.

Ia mencontohkan, relevansi budaya bisa diwujudkan melalui berbagai medium kekinian yang dekat dengan anak muda.

“Misalnya, melalui musik, film, fashion, konten digital, maupun berbagai karya kreatif yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia. Batik bisa jadi streetwear yang keren, tari tradisional bisa jadi konten TikTok yang viral, bahasa Lampung bisa jadi lirik lagu hip-hop yang mendunia. Itu yang kita harapkan,” ujar Ruby yang disambut tepuk tangan peserta.

Ruby berharap, diskusi yang difasilitasi bersama Kementerian Kebudayaan ini menjadi ruang dialektika dan ruang tumbuh bagi anak muda Lampung.

“Saya berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi kita semua, khususnya anak-anak muda, untuk semakin mencintai, memahami, dan mengaktualisasikan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan malu berbudaya, karena budaya adalah jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” tutupnya.

Kegiatan diskusi dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber dari budayawan Lampung tentang strategi pemajuan kebudayaan, perlindungan cagar budaya, dan pemanfaatan dana Indonesiana untuk pelaku budaya.

Salah satu peserta, Agung (20), mengaku termotivasi dengan pesan yang disampaikan Ibu Ruby.

” setelah dengar penjelasan Kak Ruby, jadi tambah bangga mencintai kebudayaan. Ternyata budaya itu bisa dikemas jadi modern tanpa menghilangkan pakemnya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *